h1

Ketika Riwayat Cinta itu Tamat

27 Oktober 2009

Pemuja Cinta Penyembah Nafsu

Demi cinta, mereka rela menutup mata dari hukum Allah dan Rosul-NYA. Ironisnya, para pemuja cinta budak nafsu itu mengatasnamakan Tuhan sebagai legitimasi perbuatan amoral mereka terhadap lawan jenis.

Antara cinta kepada lawan jenis dan cinta kepada Allah

Keduanya mempunyai kadar dan parameter yg berbeda serta kuran masing2. Cinta kpd lawan jenis tdk brarti menutup cinta kpd Allah dan Rosul-NYA.bgt pula sebaliknya dgn mencintai Allah dan Rosul-NYa bukan berarti tidak boleh mencintai lawan jenis sama sekali.

Yang saya maksud dengan cinta dalam judul di depan adalah cinta- manusia yang melampaui cintanya kepada Allah, sehingga ia berani melakukan banyak hal yang bertentangan dengan hukum-hukum-Nya. Cinta seperti itulah yang harus kita kubur riwayatnya.

Yang saya maksud dengan cinta dalam judul di depan adalah cinta- manusia yang melampaui cintanya kepada Allah, sehingga ia berani melakukan banyak hal yang bertentangan dengan hukum-hukum-Nya. Cinta seperti itulah yang harus kita kubur riwayatnya.

Dalam konteks ini, saya tidak menggunakan redaksi “Cintaku hanya untuk Allah”. Sebab, jika seseorang telah berikrar demikian, maka ketika ia mencintai selain Allah walaupun dalam kadar rendah, berarti telah mengingkari janjinya sendiri. Di samping’itu, dalam kaidah cinta secara umum, ada kesepakatan tidak tertulis bahwa cinta meniscayakan perhatian, pengorbanan, perjuangan, dan lain sebagainya yang bersifat timbal balik. Jika cinta kepada Allah juga demikian, maka seolah-olah kita mewajibkan Allah mencintai kita sebagaimana kita mencintai-Nya. Padahal, cinta Alllah kepada hamba-Nya jauh lebih agung ketimbang cinta hamba kepada-Nya. Sebesar apa pun cinta manusia kepada-Nya takkan bisa disandingkan dengan cinta Allah kepadanya. Bukti cinta Allah kepada manusia adalah Allah menempatkan manusia pada derajat tertinggi, bahkan melampaui derajat para malaikat sekalipun. Allah berfirman,

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.”(Q.S. Ali Imran [3]: 139)

Dalam ayat yang lain, Allah menegaskan kemuliaan manusia,

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dariyang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.’0 (Q.S. al-Isra’ [17]: 70)

Kemudian, mengenai cinta kita kepada Allah, dijelaskan dalam firman-Nya,

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan iiimuiya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya Yii mereka menyesal).'”(Q.S. al-Baqarah: 165)

Dalam ayat yang lain, Allah juga menjelaskan bahwa bukan hanya  manusia yang mencintai Allah. Tetapi, Allah juga sangat mencintai hamba-Nya yang bertakwa.

” Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. at-Taubah [9]: 7)

Kata cinta memang telah begitu akrab dalam ucapan kita. Sayangnya, kita acap tidak sanggup mengungkapkan cinta kita kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Oleh karena itu, dalam pembahasan ini, izinkanlah saya menggunakan kata cinta hanya iuntuk sesama manusia, tepatnya untuk calon jodoh

Saya berhusnuzan kepada Anda semua bahwa tidak ada seorang ii di antara Anda yang tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya. semuanya mencintai Allah dan Rasul-Nya. Hanya saja, kadar cinta kita kepada keduanya tidak sama. Dengan mencintai keduanya berarti kita telah berada di jalur yang benar. Tinggal kemudian  membuktikan cinta tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dari situ dapat diketahui apakah cinta kita benar-benar tulus dan penuh pengorbanan ataukah hanya di lisan? Saudaraku, berbahagialah! petika Anda mencintai Allah, maka cinta Anda tidak akan bertepuk sebelah tangan. Allah pasti membalas cinta Anda, bahkan jauh lebih Agung.

Selanjutnya, marilah kita amati realitas cinta dan jodoh dengan kebeningan hati.

Dalam jodoh pasti ada cinta. Tetapi, cinta belum tentu berujung pada jodoh. Cinta dan jodoh memang tidak dapat dipisahkan, tetapi dapat dibedakan. Bahkan dalam aspek tertentu, keduanya sering kali berlawanan.

Bukankah banyak pernikahan di muka bumi ini yang didahulu dengan kisah cinta kasih selama bertahun-tahun? Hubungan cinta kasih tersebut disebut sebagai pacaran oleh generasi modern. Namun tidak sedikit pernikahan yang tidak diawali proses pacaran. Bahkan ada yang melangsungkan pernikahan walaupun hanya bertemu dua atau tiga kali sebelumnya. Jodoh datang dengan mudahnya, bahkan, tanpa diundang.

Sebaliknya, tidak sedikit orang yang berpacaran selama bertahun-tahun tetapi tidak berakhir dengan pernikahan. Ini bisa disebut sebagai ada cinta tetapi tidak ada jodoh. Bahkan, ada juga orang yang telah menerima pinangan tetapi tidak bermuara di kursi pelaminan. Kegagalan menggapai jodoh yang didahului dengan pacaran ini kadangkala meninggalkan luka pedih di hati,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: